Sabtu, 17 Oktober 2009

GETSEMANIKU UNTUK MALAIKAT MALAM

Aku putih yang melebur dalam kelabu. Anyir darah hatiku tak mampu membuatku merah hati.
Lembut buai suaranya atau bisikan suara hati adalah keraguan.

Sekantung napas terlempar keluar, menetes dalam titik2 bundar rapuh tersebar. Meleleh menyerah meninggalkan batuku atau menggenang menjadi cermin diri adalah dilema....

Dibawah cahayamu berpendar hijau, kuning, merah, ungunya gelap. Aku mulai memudar membiaskan putih untuk malam. Tapi masih membagi kepastian pada manusiawiku.

Aku bukan Yesus yang peluhnya menetes menjadi darah karena kebesaranNYA untuk kebebasan manusia....
Aku hanya perempuan yang berada pada Getzemani yang sama denganNYA, terus melipat tubuh menjadi dua oleh lutut.,..

Tapi bila kau terbang nanti ketika fajar...
Katakan pada Bapa "Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dariku. Tapi bukan seperti yang kukehendaki melainkan seperti yang Bapa kehendaki...". Dan katakan pada Yesus terimakasihku karena tempatNYA yang kupijak saat ini memberiku kekuatan untuk bertahan dan bilang padaNYA aku mengasihiNYA....

Rabu, 07 Oktober 2009

Cii ci ci cinnnnn tttt tahh???


Aku bukan manusia suci, Cuma lahir dan nanti mati.
Bukan Darah, tulang, kotoran.
Aku bukan kisah yang hanya mendengung dimalam buta,
Bukan Insomnia, Paranoia, skizofrenia.
Aku bukan pencipta kata indah dari tarian pena tanpa nyawa,
Bukan Kitab, surat, mantra.
Aku hanya kata polos tanpa makna yang tersembunyi
Yang keluar dari mulut yang baru membuka.
Mengeja tentang cinta, rasa, eulogia.

Saat ini jika ada yang bertanya tentang cinta
Amorf, amnesia, kontemplasi.
Karena bagaimana mungkin mengukur sesuatu yang tak lagi terasa,
Bagaimana menaksir yang tak kasat mata,
Bagaimana menilai yang sudah tanpa makna.

Aku tak percaya cinta yang lahir tiba-tiba
Tanpa tahu apa, mengapa,
sekalipun mengata dalam kalimat yang menyala menggetarkan rasa.
Sebaiknya membiarkannya menjadi ranum dalam hati sejenak
Agar bisa kutatap kagum dan kubaui sepat manis gurihnya.
Tapi Aku masih disini bukan untuk menunggu,
Aku Cuma menghitung waktu.
Waktu adalah sahabatku
Jika ia terbang, aku juga.
Jika aku berhenti, ia juga.

Bila saat ini cinta masih terus memaksa ada sebelum tanda tanya
Baiklah, mari duduk disisiku bersama waktu
Atau jika malu, biar aku yang menghampiri
Dan kuajarkan bagaimana menelan masa lalu.
Itulah awal cinta pada hati yang beku
sebelum terkubur dalam jasad kaku.

Senin, 05 Oktober 2009

KTA

Untuk qta yg slalu bertemu pada kutukan malam, berbisik, alis mengerut pada sungai dalam mata, qta satukan jari hingga buku memutih, untuk qta yg ada pada kantuk yg tak juga tunduk pada jarum jam yg merunduk... Kali ini Aq menulis bukan lagi untuk kesenangan sendiri, tapi untuk Qta.

Aku pd Qta tak perlu malu melelehkan dosa,,, mencAir & biarkan anjing2 menjilatinya, lalu qta bicara tentang pagi, siang, dan malam dengan protagonis dan antagonis.

Qta membuka kesenangan dari kardusnya, qta gerai lalu qta saling mengagumi dan memuja.

Aku memberikan beberapa puzzle nama, lalu Qta satukan hati, satukan tangan untuk menyatukannya menjadi gambar yg indah.

Kemudian kuberikan namaku dan ku tahu Kau telah tahu saatku masih menutup mata dengan buluh mata yg basah... Kau tahu arti getaran bahuku, Kau tahu arti gigi yg beradu untuk sebuah kata... Kau tahu karena telah kulubangi pori hatiku untukMu.

Aku hanya punya keringat dan Kau punya hujan.
Kau punya napas dan aku hanya punya seurat nadi yg karat.
Apalagi hanya sehelai sapu tangan, satu rangkulan penguatan, satu kata damai, Kau punya itu. Kau punya melebihi yg kupunya.....
Kau buatku tertawa saat untuk tersenyum pun susah, Kau buatku mendongak saatku terkulai kelu dan hampir mati terjerembab.
Kau memampukanku mengasihi kala dunia meludah benci. Kau slalu ada sebelum terlambat membayangi.

Aku manusia dan Kau Tuhan dan akan selamanya begitu....
Aku mengasihiMu dan Kau mengasihiku dan akan begitu selalu...
Aku milikMu dan jadilah seperti yg Kau mau dan Qta akan selalu memiliki untuk kehidupan disini dan diSana.

Tq n MorNing 4 U JC!!!

Kamis, 24 September 2009

APA KABAR

Dia datang lagi siang tadi dan bertanya “Apa kabar?”
Waktuku berontak berteriak “kau buang lamaku jadi sia-sia”
Hatiku kaku membisik “kau telah buatku mengeras untuk yang lain”
Rasaku berkata hampa “kau buatku mati tanpa getar yang baru”
Kaki bergerak memelas “aku kesemutan disini”
Tapi harapku senyum berseri “apa kabar juga?”

“Bisakah kamu realistis” otak melotot pada harap
“aku bisa berhembus tanpanya” napas membela otak
“aku tak bisa berbohong, tapi aku bisa menutup” mata rela melakukan itu.

Kemarin tahun, harap diam tanpa sadar.
Kemarin hari, harap diam bersama sadar.
“aku mungkin akan mencintainya 80 tahun lagi, tapi membiarkan waktu terbuang, membuat hati mengeras dan susah untuk merasa pada yang lain, kaki berdiri terlalu lama untuk menunggu lagi, dan hidup tak bisa dilanjutkan.... adalah suatu kebodohan” harap berkata bersama sadar.

Pikir bilang “aku akan melupakannya”
Hati mengangguk “aku akan berusaha mati untuknya dan membantumu, pikir”
Aku berkata “APA KABAR!!” bukan bertanya “APA KABAR??”

Selasa, 22 September 2009

TANGKAP EUFORIA!!! (Untuk para siapa yang mendung)

Ada yang beradu dalam dilorong terowongan
Berat, kerat, namun cepat.
Berkelabat putih hentakkan kepala batu
Lembut terkam hati merampas empedu
Namun sejenaknya buat emosi jadi ribut merebut damai

Kamu bingung, aku tidak.
Itu rasaku dari setengah nyawa
Melayang hanya diatas atmosfir hitam, mengintai sisa yang lepas.
Bila nanti kuterjang, akan kuhempas dan kuberi makan sendirimu
Lalu dunia akan bebas memilih kekuatannya.

Jangan bertanya ini untuk apa
Ikuti saja alurku dan bersamaku pergi
Anjing akan melolong membaui ini
Tapi kita dendangkan lagu jangkrik, tentang sayap-sayap yang bisa bernyanyi.

Mari berjalan dekat disampingku
Bila kuminta kelingking, beri hatimu
Bila nanti hadir saat itu mari kita tautkan jadi satu
Lalu dunia pun akan tersenyum


Ini bukan tentang aku siapa, kamu siapa
Kita bukan tentang raga atau darah.
Ini bukan untuk melayangkanmu apalagi merayu
Aku tak punya kata untuk itu.


Dan biar malam terkejut tentang kita yang ribut
saat ku ingin mengata untuk buatmu kuat
pada setiap mata sembab atau semangat yang layu
aku hanya ingin……
kau selalu tersenyum meski itu berat.

Senin, 07 September 2009

LAUT BISA KEJAM

Dia pikir dia adalah mercusuar
Ketika kucari cahaya malam dipantai.
Mengganggap dirinya gemuruh ombak
Saatku kuberharap tak boleh ada yang mendengar teriakku.
Berharap dirinya adalah bintang laut
yang menghiasi pasir yang kujejaki.
Dan dengan keasinannya bisa membuat rasaku menjadi sedap untuk dikecap.
Atau dengan kedalamannya buatku semakin tenggelam dalam rengkuhnya.

Aku pikir dia adalah makhluk angkuh dipuncak cahaya itu.
Aku anggap dia adalah ombak yang hanya bisa berteriak dengan nada yang membosankan.
Aku harap dia adalah duri yang melukai jejaknya sendiri.
Dengan rasanya buatku memuntahkan semua baunya.
Dan tenggelam hanya untuk pelukan maut.

Lalu aku apa???
Aku adalah laut yang menceritakan tentang kekejaman
Bila kamu tak mencoba menghentikkan pikirku tentang dia.

Rabu, 02 September 2009

KENCING DI POHON, BERAK DI DAUN (JOROK DEMI MASYARAKAT) Kalau menurutmu ini jorok, jangan dibaca! Kalau nekat baca, silahkan. setelah itu terserah!

Ini muntahan pikir bukan kentut atau sendawa.
Yang disadari oleh pantat yang melekat pada kursi berlengan satu
Kita mengangguk dan menggeleng untuk teori yang abstrak
Dari mulut yang masih bau pagi sampai bau badan sore
Kita dipersiapkan bisa berkoar untuk massa tentang sikat gigi dan mandi.

Retoris… filsafat.. dan logika kita sertakan dengan alasan biar fleksibel
Padahal panu hanya cukup bilang karena bakteri
Tikus-tikus masih di sampah kemudian meliuri ikan
Namun kita diajar untuk menutup jalannya, bukan membunuh.

Kita meludah pada keborokan yang membau
Memberi saran yang hijau tanpa tahu karena tanah atau tahi.
Sombong menghitung jumlah dengan rumus dan software yang ada biasnya.
Dan menunjuk aturan dengan telunjuk yang penuh upil lalu menjilatinya sendiri.
Hmmmm, mamamia lezatos.....

Hey guys....
Kamu pikir untuk apa semua kejorokan ini???
Semua hanya untuk mereka yang kita sebut masyarakat.
Yang bilang ya dengan bibir atas didepan kita
Bilang persetan dengan bibir bawah dibelakang kita
Lalu menghilang dengan gigi hitam mereka dan kita merasa tak becus.

Kita buka mata dan pikir dengan liur yang meleleh
tapi masih menutup hidung.
Padahal kita hanya perlu mengendus untuk menemukan mereka.
Mencari pesing dan bau tahi dengan bulu hidung yang tipis.
Jangan dijamban dengan segala macam leher.
Mereka ada di pohon pada batang dan daun.
Disitulah mereka menyembunyikan kunci sadarnya dari kita.