Minggu, 28 Februari 2010
Tulis sebuah catatan (ARI-ARI FEBRUARI)
Diluar sana..
Paduka bulan...
Luruh bersama hujan dan cAiran kuNing menggenang...
Yang mulia bintang...
Hancur berserakan tak dapat kubedakan dengan debu lumpur...
Di dalam sana...
Aku adalah darah dimulut penuh tangis perdana...
Bersama ari-ari februari...
Yang kini telah usai...
Apa...
Aku masih hidup dengan tangis terakhir?
Aku tak tahu...
Yg ku tahu..
Aku tak tahu apa-apa!
Sabtu, 26 Desember 2009
DUA RASA DI KEMARIN
Aku berada diantara
Antara ini dan itu
Antara apa dan siapa
Ku buat kemungkinan
Mungkin seperti jeda antara lagu dan musik
Seperti spasi antara suka dan luka
Ataukah selaput jarak antara kehidupan dan kematian
Tak ada setengah ini atau setengah itu
Tak ada setengah apa atau setengah siapa
Untuk buatku memilih
Keutuhan rasa yang bukan entah
Ini Natal, ini suka
Ini natal ini kehidupan
Yang dibentuk dari berbagai nada harmoni
Yang membuat nyanyian sebaris lagu meski tanpa musik
Hanya pergi dan itulah pilihan
Untuk merasa damai
Untuk merasa bagian hidup yang indah
Lalu kembali
Dan semua seperti bukan natal
Antara ini dan itu
Antara apa dan siapa
Ku buat kemungkinan
Mungkin seperti jeda antara lagu dan musik
Seperti spasi antara suka dan luka
Ataukah selaput jarak antara kehidupan dan kematian
Tak ada setengah ini atau setengah itu
Tak ada setengah apa atau setengah siapa
Untuk buatku memilih
Keutuhan rasa yang bukan entah
Ini Natal, ini suka
Ini natal ini kehidupan
Yang dibentuk dari berbagai nada harmoni
Yang membuat nyanyian sebaris lagu meski tanpa musik
Hanya pergi dan itulah pilihan
Untuk merasa damai
Untuk merasa bagian hidup yang indah
Lalu kembali
Dan semua seperti bukan natal
Sabtu, 21 November 2009
TENTANG SEORANG PEREMPUAN
Ia jadi uap lagi
Tak la9i meNgenal benTuk
tak la9i punYa waRna dan rasa
di kubangan entah.
Ia bukan lagi embun
yang slalu dirindukan sedap malam
ia kini uap yg tak bisa ditangkap akal apalagi hati
ada tapi tak ada
semua telah menjadi cermin
semua rela menjadi kaca
hanya untuk buatnya lekat dan tak per9i la9i
lalu sama2 kita gambarkan sebuah bahtera
tapi itu hanya harapan tabularasa
kami bukan yg menyerah
telah mencoBa berjalan walau jalannya beda
mencoBa mengerti bahwa manusia juga manusia
tapi kami adalah cermin dan kaca
bisa retak karena waktu
itu realitas bukan takdir
aku cermin yg tak pandai memantulkan kisah seDih, tp telah bernyanyi tentang kesenduan
Aku hanYa in9in pa9i
dan satu per satu dipersatukan
meski tak lagi menjadi utuh, setidaknya merasa ada.
Cepatlah pa9i....
Mungkin disana ada sebuah perjuangan
ada derap kaki yg kembali
ada denting peDang pada kesadaran
ada ketulusan sang pemberi maaf
Uap menjadi embun
sebelum siang
sebelum terlambat
Tak la9i meNgenal benTuk
tak la9i punYa waRna dan rasa
di kubangan entah.
Ia bukan lagi embun
yang slalu dirindukan sedap malam
ia kini uap yg tak bisa ditangkap akal apalagi hati
ada tapi tak ada
semua telah menjadi cermin
semua rela menjadi kaca
hanya untuk buatnya lekat dan tak per9i la9i
lalu sama2 kita gambarkan sebuah bahtera
tapi itu hanya harapan tabularasa
kami bukan yg menyerah
telah mencoBa berjalan walau jalannya beda
mencoBa mengerti bahwa manusia juga manusia
tapi kami adalah cermin dan kaca
bisa retak karena waktu
itu realitas bukan takdir
aku cermin yg tak pandai memantulkan kisah seDih, tp telah bernyanyi tentang kesenduan
Aku hanYa in9in pa9i
dan satu per satu dipersatukan
meski tak lagi menjadi utuh, setidaknya merasa ada.
Cepatlah pa9i....
Mungkin disana ada sebuah perjuangan
ada derap kaki yg kembali
ada denting peDang pada kesadaran
ada ketulusan sang pemberi maaf
Uap menjadi embun
sebelum siang
sebelum terlambat
Jumat, 13 November 2009
BAPA DI SURGA DAN BAPA DI BUMI
Hidupnya adalah irama. Cukup ketukkan jari dan nada menyebar seperti racun dalam darah. Tegas dan bukan aliran yang keras. Lembut menggerakkan atmosfer, mengalun dan mengada nyata. Hidup bukan daging yang bertumbuh sejak benih sperma bertemu dengan ovum pada rahim wanita. Baginya hidup adalah ketika tidak membiarkan bulan tetap bundar atau malam tetap gelap. Dan aku pun bernyanyi.
Sementara hidup bergulir menemukan bentuknya saat tembang-tembang di lagukan, ada Bapa di surga dalam bapa di bumi pada setiap keterseokkan diri, kewarasan, kegilaan, kebosanan, kecuekkan, kebebasan, dan distorsi nada lainnya bahkan tenang dalam keterdiaman sekalipun.
Hidup lalu diandaikan sebuah jalan. Mengalami, masuk ke setiap lorongnya. Itulah perjalanan untuk terus melangkah selagi jiwa masih menghangat, berlari bila itu perlu. Besok akan dijalani besok. Dan ketika hidup bukan lagi sebuah jalan, itulah kenapa bapa hadir di bumi memberi sayap untuk bisa terbang ke pengandaian hidup yang lain. Katanya agar hidup bisa menghidupkan untuk diri, orang lain, bumi.
Dan saat ini aku melihat keatas Kepada Yth. Bapa di surga, dalam doa yang sama “Bapa di Surga, berkati bapa di bumi melebihiku, bila mungkin Engkau meninggalkanku jangan pernah tinggalkannya dan bila hidup bisa dibagi agar bisa bersama, ambillah punyaku untuknya. Semoga Bapa di surga tidak bosan. Jadilah kehendakMU dan Terimakasih untuk hidup di kehidupannya hari ini.”
aPpY BdaY bapa………
Dan aku pantas tersenyum untuk kehidupan
Bemo, kamar mandi, ruang depan, 121109
21:08 pm
Sementara hidup bergulir menemukan bentuknya saat tembang-tembang di lagukan, ada Bapa di surga dalam bapa di bumi pada setiap keterseokkan diri, kewarasan, kegilaan, kebosanan, kecuekkan, kebebasan, dan distorsi nada lainnya bahkan tenang dalam keterdiaman sekalipun.
Hidup lalu diandaikan sebuah jalan. Mengalami, masuk ke setiap lorongnya. Itulah perjalanan untuk terus melangkah selagi jiwa masih menghangat, berlari bila itu perlu. Besok akan dijalani besok. Dan ketika hidup bukan lagi sebuah jalan, itulah kenapa bapa hadir di bumi memberi sayap untuk bisa terbang ke pengandaian hidup yang lain. Katanya agar hidup bisa menghidupkan untuk diri, orang lain, bumi.
Dan saat ini aku melihat keatas Kepada Yth. Bapa di surga, dalam doa yang sama “Bapa di Surga, berkati bapa di bumi melebihiku, bila mungkin Engkau meninggalkanku jangan pernah tinggalkannya dan bila hidup bisa dibagi agar bisa bersama, ambillah punyaku untuknya. Semoga Bapa di surga tidak bosan. Jadilah kehendakMU dan Terimakasih untuk hidup di kehidupannya hari ini.”
aPpY BdaY bapa………
Dan aku pantas tersenyum untuk kehidupan
Bemo, kamar mandi, ruang depan, 121109
21:08 pm
Selasa, 10 November 2009
UNTUK MAMA dan TUHAN (PADA SEGALA WAKTU dan TEMPAT)
Kata-kataku tak seharusnya disini mama
Bicara pada semua mata yang tak mengenalmu
Kali ini kataku bukan lagi emosi yang abstrak, tersembunyi, tak dimengerti
Karena ini tentangmu agar semua tahu tentangmu.
Saat ini malaikat bernyanyi mama
Tentang hidup, tentang cinta, tentangmu
Tentang waktu ketika kau membuka pintu unik ke dalam dunia
Tentang jalan hidup yang membawamu datang
Dan menemukan kami pada kemudiannya karena Tuhan.
Saat itu kau menangis pada dunia pertamamu
Kali ini aku menangis untuk keindahan bersamamu
Tak perlu album biru seperti nyanyian dunia
Banting saja hati kacaku
Dan kau akan temukan gambarmu pada setiap pecahannya.
Selimut masih rapih karena kutunggu waktu ini
Menjadi yang pertama berbisik pada Tuhan
Dengan doa yang sama untuk Tuhan:
“Bapa….. Berkatilah mama melebihiku. Sayangi mama melebihiku.
Bila mungkin Engkau akan meninggalkanku, jangan pernah tinggalkan mama.
Bila beban hidup menekannya berat, ambillah pundakku untuk mama. Bila hidup harus dibagi separuh atau semua, ambillah punyaku untuk mama…”
Bukan karena hari ini ulang tahunmu mama
Aku tahu doa kita sama pada setiap malam dan tak akan pernah berubah
Namaku pada doamu, namamu pada doaku
Semoga Tuhan tidak bosan.
Bicara pada semua mata yang tak mengenalmu
Kali ini kataku bukan lagi emosi yang abstrak, tersembunyi, tak dimengerti
Karena ini tentangmu agar semua tahu tentangmu.
Saat ini malaikat bernyanyi mama
Tentang hidup, tentang cinta, tentangmu
Tentang waktu ketika kau membuka pintu unik ke dalam dunia
Tentang jalan hidup yang membawamu datang
Dan menemukan kami pada kemudiannya karena Tuhan.
Saat itu kau menangis pada dunia pertamamu
Kali ini aku menangis untuk keindahan bersamamu
Tak perlu album biru seperti nyanyian dunia
Banting saja hati kacaku
Dan kau akan temukan gambarmu pada setiap pecahannya.
Selimut masih rapih karena kutunggu waktu ini
Menjadi yang pertama berbisik pada Tuhan
Dengan doa yang sama untuk Tuhan:
“Bapa….. Berkatilah mama melebihiku. Sayangi mama melebihiku.
Bila mungkin Engkau akan meninggalkanku, jangan pernah tinggalkan mama.
Bila beban hidup menekannya berat, ambillah pundakku untuk mama. Bila hidup harus dibagi separuh atau semua, ambillah punyaku untuk mama…”
Bukan karena hari ini ulang tahunmu mama
Aku tahu doa kita sama pada setiap malam dan tak akan pernah berubah
Namaku pada doamu, namamu pada doaku
Semoga Tuhan tidak bosan.
Selasa, 27 Oktober 2009
PAGI n PAGIH ( Mari Baca di Pagi... )
Pa9i di pagih seperti satu tambah satu sama dengan dua.
Rasa kita itu rasa pa9i. sejuk, indah, tenang yang umum.
Rasaku itu rasa pa9ih. Ludah seperti madu yang meleleh... Manis, pekat, baru, sluurrrphh...
Mentarimu malu-malu "ciluUup baaa". Bercanda dibalik awan, pangku kaki dipucuk pohon. Santai....
Punyaku penuh, utuh, tak perlu keluar mencari semangat untuk disepuh.
Ada dan santai....
Burung berkicau, pa9i bilang merdu.
Tapi pa9ih mengata dalam...
Sapu smua tentang malam dan Biarkan batu, rumput pada tempatnya...
Tapi aku tak mau. Kuning.. Kuning... Cokelat yang nanti membusuk adalah kehidupan.
Kita bukan beda. Aku hanya terlalu punya syukur untuk kunyanyikan pada pagi lalu menjadi pa9ih.
Kalau kau mau, mari kubagi.
Aku hanya punya satu pagi dan menjadi lebih saatku bilang "Selamat pagi, Bapa, selamat pagih Bapa!"
kalau kau mau, kenapa tak bilang.
Rasa kita itu rasa pa9i. sejuk, indah, tenang yang umum.
Rasaku itu rasa pa9ih. Ludah seperti madu yang meleleh... Manis, pekat, baru, sluurrrphh...
Mentarimu malu-malu "ciluUup baaa". Bercanda dibalik awan, pangku kaki dipucuk pohon. Santai....
Punyaku penuh, utuh, tak perlu keluar mencari semangat untuk disepuh.
Ada dan santai....
Burung berkicau, pa9i bilang merdu.
Tapi pa9ih mengata dalam...
Sapu smua tentang malam dan Biarkan batu, rumput pada tempatnya...
Tapi aku tak mau. Kuning.. Kuning... Cokelat yang nanti membusuk adalah kehidupan.
Kita bukan beda. Aku hanya terlalu punya syukur untuk kunyanyikan pada pagi lalu menjadi pa9ih.
Kalau kau mau, mari kubagi.
Aku hanya punya satu pagi dan menjadi lebih saatku bilang "Selamat pagi, Bapa, selamat pagih Bapa!"
kalau kau mau, kenapa tak bilang.
Selasa, 20 Oktober 2009
NOMEN NESCIO (Bukan sebuah nama)
Malam masih hitam, malaikat masih berjaga dalam pikir
Ada lidah menyambar kesadaran di tembok
Bila bertanya tentang nama, pakai apa atau siapa?
Mari bicara sebagai aku yang bukan skolastik retoris,
yang tak pandai bertanya dan menjawab
dengan puitis.
Kontemplasi jadi hilang sepinya
apa jadi siapa, siapa jadi apa
hanya nama tetap nama, nama punya nama.
Lalu kenapa???
Biar berbeda, Biar dikenal, biar disapa
Atau dikenang ketika mati
Debu yang punya nama sebagai Doa yang sudah amin.
Aku itu apa atau siapa tak ingin kunamakan
Biar gelap mengulang tanya sampai bosan
Penasaran dimatikan oleh rahasia
Namun bila kamu tak putus asa
pergilah pada Yang Maha Tahu
Lalu datang dan teriakkan apa atau siapa itu nama
Yang bagiku tak ada artinya.
Aku masih nomen nescio
Belum ingin dikenal atau dikenang
Ada lidah menyambar kesadaran di tembok
Bila bertanya tentang nama, pakai apa atau siapa?
Mari bicara sebagai aku yang bukan skolastik retoris,
yang tak pandai bertanya dan menjawab
dengan puitis.
Kontemplasi jadi hilang sepinya
apa jadi siapa, siapa jadi apa
hanya nama tetap nama, nama punya nama.
Lalu kenapa???
Biar berbeda, Biar dikenal, biar disapa
Atau dikenang ketika mati
Debu yang punya nama sebagai Doa yang sudah amin.
Aku itu apa atau siapa tak ingin kunamakan
Biar gelap mengulang tanya sampai bosan
Penasaran dimatikan oleh rahasia
Namun bila kamu tak putus asa
pergilah pada Yang Maha Tahu
Lalu datang dan teriakkan apa atau siapa itu nama
Yang bagiku tak ada artinya.
Aku masih nomen nescio
Belum ingin dikenal atau dikenang
Langganan:
Postingan (Atom)