Bicaralah padaku
Mengapa cinta itu seperti kaos kakiku
Hitam putih, pendek, bercontreng di ujung
Atau seperti penjilat hati
Yang tertawa bernada tangis?
Aku memikirkanmu
Yang masih basah dalam bara
Hilang pada pusaran keras ego
Kau masih disana?
Kau masih disana.
Hatiku terluka
Tak berdarah karena aku adalah kertas
Cabik saja, sayat saja, bunuh saja
Lalu telan tapi muntahkanlah
Biar aku selalu ada
Selalu disini
Memejam, menunduk menuduh bumi
Aku ingin ke horizon
Aku ingin duduk
Aku ingin menatap
Aku ingin diam
Aku tak ingin menangis
Karena aku perempuan
Adalah kertas
Yang hanya bisa hancur
Jika ditetesi air mata
Malam terakhir depan tembok kuning hijau,
060311
23:15 pm
Minggu, 06 Maret 2011
Kamis, 17 Februari 2011
SUDAH LARUT MARUT
Sudah….
Sudahlah…
Hitammu tak lagi pekat untuk sembabkan kata
Di plastik itu hati tapi siapa peduli
Lolongan cintakah yang kau dengar?
Seperti anjing-anjing malam di pekuburan
Esok tak ada lagi
Larut…
Merajalah…
Putih ini bukanlah warna, hapus saja.
Seperti dia mencintainya pada udara tak bernama
Mengipas pada debu yang dia sebut itu kasih
Di tempat yang sama ku injak sebelumnya
Marut…
Kubutuh bahumu, setengah saja
Jilati air mata itu lalu merapuh pun tak apa
Asal kau mengerti bahwa dia lama terkulai
Sampai beberapa pemenggalan yang bisa kau hentikan
Atau pada beberapa yang tak bisa dia hentikkan
Sudah larut marut….
Tapi kau tak mengerti
Sampai dia buat kau mengerti?
Suatu saat nanti?
Sudahlah…
Hitammu tak lagi pekat untuk sembabkan kata
Di plastik itu hati tapi siapa peduli
Lolongan cintakah yang kau dengar?
Seperti anjing-anjing malam di pekuburan
Esok tak ada lagi
Larut…
Merajalah…
Putih ini bukanlah warna, hapus saja.
Seperti dia mencintainya pada udara tak bernama
Mengipas pada debu yang dia sebut itu kasih
Di tempat yang sama ku injak sebelumnya
Marut…
Kubutuh bahumu, setengah saja
Jilati air mata itu lalu merapuh pun tak apa
Asal kau mengerti bahwa dia lama terkulai
Sampai beberapa pemenggalan yang bisa kau hentikan
Atau pada beberapa yang tak bisa dia hentikkan
Sudah larut marut….
Tapi kau tak mengerti
Sampai dia buat kau mengerti?
Suatu saat nanti?
Bintang atau Binatang Malam (perbedaan ekstrimitas bila kau mengerti maksudku)
Bukan langit itu hitam pada malam
Malam itu sekilas terang
Dieja bintang atau binatang?
Pada mata, pada lampu, pada pohon
Hanya mereka yang tahu tapi tak mau tahu
Diluar dan keluar. Bisakah diulangi? Diluar dan keluar!
Dengarlah Jangkrik memuji, jangkrik menyindir
Apakah bedanya lagi?
Mereka tak merasa padahal sudah merasa
Pagi jaga, mereka juga
Sama…
Tapi
Berkelip, berkedip
Itulah bedanya
Kamis, 18 November 2010
MUNGKIN TUHAN LUPA MENULIS CERITA CINTA DALAM HIDUPKU PADA WAKTu DIA MENCIPTAKANKU
Aku berjalan melingkari bulan
Menukik pada satu garis ekstrim yg tak biasa
Biarkan dia mencintaiku
Sampai bintang2 gemetaran
Aku menunggu
Terpesona dan terganggu
Pada suatu ketika pelangi sudah diujung lidah
Dia mengata di lapang hatiku tentang cinta
Aku mengitari sebentuk senyum dilangit
Bahagia melewati petak2 kisah yg terdiam
Semua indah namun tak putih
Seperti bermandikan biru langit yg luntur
Tak tega membuat cahaya mentari patah2
Aku berhenti menulis tentang cinta
Tersenyum terluka karena kita ada pada beda
Di kemalaman ini
kubuat kemungkinan
Mungkin dilangit ini
Tuhan lupa menulis cerita cinta untukku
Seperti kemarin
Aku kembali melingkari bulan
Sabtu, 13 November 2010
BAPA DI SURGA DAN BAPA DI BUMI
Hidupnya adalah irama. Cukup ketukkan jari dan nada menyebar seperti racun dalam darah. Tegas dan bukan aliran yang keras. Lembut menggerakkan atmosfer, mengalun dan mengada nyata. Hidup bukan daging yang bertumbuh sejak benih sperma bertemu dengan ovum pada rahim wanita. Baginya hidup adalah ketika tidak membiarkan bulan tetap bundar atau malam tetap gelap. Dan aku pun bernyanyi.
Sementara hidup bergulir menemukan bentuknya saat tembang-tembang di lagukan, ada Bapa di surga dalam bapa di bumi pada setiap keterseokkan diri, kewarasan, kegilaan, kebosanan, kecuekkan, kebebasan, dan distorsi nada lainnya bahkan tenang dalam keterdiaman sekalipun.
Hidup lalu diandaikan sebuah jalan. Mengalami, masuk ke setiap lorongnya. Itulah perjalanan untuk terus melangkah selagi jiwa masih menghangat, berlari bila itu perlu. Besok akan dijalani besok. Dan ketika hidup bukan lagi sebuah jalan, itulah kenapa bapa hadir di bumi memberi sayap untuk bisa terbang ke pengandaian hidup yang lain. Katanya agar hidup bisa menghidupkan untuk diri, orang lain, bumi.
Dan saat ini aku melihat keatas Kepada Yth. Bapa di surga, dalam doa yang sama “Bapa di Surga, berkati bapa di bumi melebihiku, bila mungkin Engkau meninggalkanku jangan pernah tinggalkannya dan bila hidup bisa dibagi agar bisa bersama, ambillah punyaku untuknya. Semoga Bapa di surga tidak bosan. Jadilah kehendakMU dan Terimakasih untuk hidup di kehidupannya hari ini.”
aPpY BdaY bapa………
Dan aku pantas tersenyum untuk kehidupan
Bemo, kamar mandi, ruang depan, 121109
21:08 pm
Sementara hidup bergulir menemukan bentuknya saat tembang-tembang di lagukan, ada Bapa di surga dalam bapa di bumi pada setiap keterseokkan diri, kewarasan, kegilaan, kebosanan, kecuekkan, kebebasan, dan distorsi nada lainnya bahkan tenang dalam keterdiaman sekalipun.
Hidup lalu diandaikan sebuah jalan. Mengalami, masuk ke setiap lorongnya. Itulah perjalanan untuk terus melangkah selagi jiwa masih menghangat, berlari bila itu perlu. Besok akan dijalani besok. Dan ketika hidup bukan lagi sebuah jalan, itulah kenapa bapa hadir di bumi memberi sayap untuk bisa terbang ke pengandaian hidup yang lain. Katanya agar hidup bisa menghidupkan untuk diri, orang lain, bumi.
Dan saat ini aku melihat keatas Kepada Yth. Bapa di surga, dalam doa yang sama “Bapa di Surga, berkati bapa di bumi melebihiku, bila mungkin Engkau meninggalkanku jangan pernah tinggalkannya dan bila hidup bisa dibagi agar bisa bersama, ambillah punyaku untuknya. Semoga Bapa di surga tidak bosan. Jadilah kehendakMU dan Terimakasih untuk hidup di kehidupannya hari ini.”
aPpY BdaY bapa………
Dan aku pantas tersenyum untuk kehidupan
Bemo, kamar mandi, ruang depan, 121109
21:08 pm
Minggu, 26 September 2010
MENGHEMPASMU PADA KONTEMPLASIKU
Semua menembang pada jalan malam lalu
Teringat kamu disana
Pada deretan bayangan2 mati
Penuh makian
Bukan fantasmo
Aku terkejut
Logika mencuat kebodohan hati
yg tak pernah membaca apa-apa
Berkata "mampus" untuk lakumu yg harusnya tak boleh kusentuh
"Persetan" pada badai
Disini aku pada kedalaman malam
Merasa selaksa kutu kupret
Menghabiskan darahku
Menggerog0ti hatiku
Melupakan Tuhanku
Akhirnya kamu pun disana
Mengapung dlm ketidakberhinggaan sadarku
Seliweran damaiku berpekik
"Dia telah karam... Dia telah karam!!!"
Seribu rasa terbakar
Sebuah nisan, sebuah nama
Dan sejuta kata akan hilang....
Minggu, 25 Juli 2010
TINTAKAH atau CINTAKAH (aku bertanya pada aku, pada kamu)
Waktu ini kaulah penguasanya
Mencicit, menyayat sekerat hidup nafasku
sisakan jiwaku sep0t0ng
untuk bertanya
tintakah atau cintakah?
Hari masih baru untuk kubuka
padamu yg pertama ketika hati masih bata merah hati
apakah dirimu baik2 saja?
Jawabanmu adlah menulismu perlahan pada pikirku
tintakah?
Itu tinta dan akulah itu
aku diatas waktu
terus melihat katamu
terus memikir, terbang bersama malammu
aku tak ingin turun
belum mau kukasatkan
jika aku bukan lagi tinta
berhenti meresap
saat kau masih peduli
terus mengering saatku mulai merasa
cintakah?
Kutulis, aku bukan tinta
pada tembokku yg tak lagi menyembunyikan sisi satunya
Apakah dirimu baik2 saja?
Apakah dirimu baik2 saja?
Tak ada jawabmu
Tak ada dirimu
aku sedang kembali menjadi tinta
dalam padanya sebelum aku mencair pergi
kamu tintakah?
Atau cintakah?
Langganan:
Postingan (Atom)